twitter
rss

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

 



Pada tanggal 18 Maret 2024, Therapy Center Anak Pelangi telah berubah menjadi Salvia Biro Psikologi & Therapy Center. 

Kami hadir dengan layanan yang lebih lengkap, tidak hanya sekedar memberikan terapi perkembangan tapi kami juga menyediakan Psikotes dan terapi untuk Kesehatan Mental dari usia anak sampai dengan lansia.




Pentingnya menjaga kesehatan mental perlu diketahui sejak dini. Seseorang dengan mental sehat akan berpengaruh pula pada kondisi fisik juga kualitas hidup. Ketika seseorang sejahtera secara psikologis, sosial, maupun emosional, maka dapat dikatakan bahwa individu tersebut memiliki mental yang sehat.









Berikut ini adalah penyebabnya yang palin umum :

  • Orang tua yang penuh rasa bersalah cenderung terlalu banyak memanjakan dan kurang mendisiplinkan anak-anak mereka, yang penting kehidupan di dalam rumah menjadi menyenangkan.

  • Orang tua tidak memiliki energi untuk konsisten. Misalnya suatu hari orang tua melarang anak makan puding untuk sarapan, meski ada rengekan atau amarah dari anak; Keesokan harinya (ketika orang tua dalam kondisi kelelahan karena begadang dengan si bayi mungilnya), maka si orang tua berpikir bahwa tidak apalah membiarkan kakaknya makan puding, to itu tidak akan membuatnya sakit, sehingga menyerah dengan rengekan si kakak. Perilaku seperti ini mengajarkan anak bahwa peraturan itu tidak ada.

  • Orang tua terlalu banyak membantu. Saat balita frustrasi, banyak orang tua ingin segera terjun membantu, kata Lerner. Hal ini juga terjadi pada orang tua yang tergesa-gesa dan sedang stress. Anak-anak menjadi manja karena mereka mulai mengandalkan Ibu atau Ayah untuk melakukan segalanya - berpakaian, menyelesaikan teka-teki, mengambil kotak jus. Upayakan agar orang tua selalu mendorong anak untuk melakukan segala sesuatu untuk dirinya sendiri.

  • Orang tua ingin memberi semua yang tidak mereka miliki. Tentu saja, membeli barang untuk anak-anak sangat menyenangkan, terutama saat mereka bergerak melampaui fase bermain. Tapi memberi anak terlalu banyak bisa menjadi bumerang, membuat mereka selalu mencari hal baru berikutnya daripada merasa puas dengan apa yang mereka miliki. 

  • Orang tua yakin mereka adalah yang utama. Kita semua pernah melihat orang tua yang tersenyum saat anak-anak mereka berbicara keras, mendorong anak lain, atau mengetuk-ketuk benda-benda yang mudah pecah. Orang tua ini tidak mengerti bagaimana menghentikan perilaku tersebut, jadi mereka merasionalisasinya sebagai tindakan lucu. Lebih mudah memang dengan memaklumi daripada mencegah anak tersebut melakukan hal tersebut. Orang lain, bagaimanapun, tidak respek. Dan anak-anak yang tidak diberi batas atau aturan akan kesulitan untuk menghormati orang lain dan harta benda mereka di kemudian hari.


 

Aspek perkembangan yang dapat dioptimalkan pada anak usia dini salah satunya yaitu perkembangan fisik motorik. Perkembangan fisik motorik adalah perkembangan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat saraf, dan otot yang terkoordinasi. Gerak tersebut berasal dari perkembangan refleks dan kegiatan yang telah ada sejak lahir.

Apabila perkembangan motorik halus anak mengalami keterlambatan, maka akan berpengaruh pada rasa percaya diri anak, dan kesuksesan dalam kehidupannya, oleh karena itu diperlukan suatu kegiatan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak agar berkembang secara optimal.

Kegiatan pengembangan motorik halus pada anak salah satunya bertujuan untuk melatih perkembangan koordinasi antara mata dan tangan, oleh karena itu perkembangan motorik halus penting atau perlu dikembangkan karena pengembangan motorik halus akan berpengaruh terhadap kesiapan anak dalam menulis, selain itu dalam melatih koodinasi mata untuk daya lihat juga merupakan perkembangan motorik halus lainnya seperti melatih kemampuan anak melihat ke arah kiri dan kanan, atas bawah yang akan berpengaruh pada persiapan membaca awal pada anak.

Perkembangan motorik halus dengan mengembangkan koordinasi gerak memudahkan anak untuk lebih percaya diri dalam melakukan aktivitas dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Anak juga senang berpartisipasi dalam aktivitas gerak ringan seperti menggambar, mewarnai, melukis, memotong, dan menempel. Kegiatan ini juga membutuhkan program yang mencakup gerak dan permainannya, yang didukung oleh gizi baik dan kebiasaan sehat. Pertumbuhan ketrampilan motorik halus pada anak tidak akan berkembang melalui kematangan begitu saja, melainkan juga dengan ketrampilan itu harus dipelajari serta stimulasi yang didapatkan oleh anak dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah yang mendukung.

 

Mengasuh anak terutama pada anak usia 2-6 tahun memerlukan mental yang kuat sebagai orangtua. Anak yang sedang menglalami masa perkembangan otak pada fase optimal untuk mempersiapkan anak memeroleh keterampilan awal dan pembelajaran di sekolah sampai kehidupan dewasa nanti. Pada saat yang sama anak mengembangkan insiatif mereka untuk mengeksplorasi dunianya, mencontoh orang-orang terdekatnya, menjadi tahu tentang penghargaan dan hukuman yang diterima setelah berperilaku tertentu, dan mengembangkan regulasi diri untuk kesiapan dalam bersekolah.

Karakteristik anak usia 2-6 tahun seperti yang dipaparkan sebelumnya membuat tantangan dan hambatan sangat mungkin terjadi sehingga pengasuhan menjadi sebuah kondisi sulit dan dapat mengakibatkan orang tua akhirnya menjadi khawatir dan tidak gembira. Salah satu tantangan tersulit menjadi pengasuh anak usia 2-6 tahun adalah mengetahui apa yang harus dilakukan ketika anak-anak sedang berperilaku buruk atau tidak taat. Selain menghadapi ketidaktaatan anak, keinginan orangtua untuk memberikan pengasuhan terbaik bagi anak juga dapat menjadi sumber stres tersendiri baginya. Berbagai perilaku anak dan aktivitas pengasuhan sehari-hari, dirasakan orangtua dapat mengakibatkan kelelahan dan menguras energi psikis.

Di dalam kondisi lelah secara psikis akibat tantangan dan hambatan yang dihadapi, orangtua sebagai pengasuh dapat menjadi kurang peka dan cenderung reaktif dalam menghadapi perilaku anak. Perilaku reaktif dapat ditunjukkan melalui perilaku kasar, keras, otoriter serta menggunakan cara menghukum yang keras sebagai akibat dari kondisi orangtua yang mengalami stress. Stres dapat diakibatkan oleh sulitnya mengatur perilaku anak, seperti perilaku anak sering berteriak ataupun kesulitan mengatasi anak yang terlalu banyak bertanya, dan sebagainya. Kesulitan tersebut dapat diperburuk oleh kondisi keuangan keluarga yang kurang baik (kemiskinan) sehingga dapat memengaruhi sumber daya emosional yang seharusnya dapat membuat orang tua berperan dengan efektif.

Di dalam kondisi stres, orang tua menjadi lebih menolak, lebih mengontrol, reaktif, serta kurang hangat terhadap anak-anak mereka. Stres akan dikatakan tidak wajar ketika stressor (dalam konteks yang muncul akibat peran orang tua dalam mengasuh anak) dinilai telah melampaui kemampuannya untuk mengatasi sehingga individu kehilangan sumber daya (exhausted) untuk bergerak mengatasinya atau hanya melakukan perenungan yang tidak produktif. Stres yang terus menerus dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental orang tua. Dampak lain yang dialami adalah dapat menimbulkan kesulitan untuk memberikan pengasuhan yang efektif terhadap anak sehingga akhirnya memengaruhi perkembangan anak. Stres pengasuhan dapat mengubah sikap orang tua pada anak melalui perilaku mereka dalam mengasuh anak seperti pengabaian bahkan perilaku kasar. Orang tua dapat menjadi sering menggunakan ancaman dan menanamkan kedisiplinan pada diri anak dengan melakukan tindak kekerasan ataupun cara-cara yang kasar. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa stress pengasuhan bukan hanya berdampak terhadap anak melainkan juga terhadap orangtua.

Membahas soal ciri-ciri anak dengan autisme tak hanya menyoal satu-dua hal saja. Sebab, masalah yang satu ini bisa ditandai oleh berbagai tanda. Misalnya, sekitar 25–30 persen anak dengan autisme kehilangan kemampuan berbicara, meski mereka mampu berbicara saat kecil. Sedangkan 40 persen anak dengan autisme, tak berbicara sama sekali.

Selain itu, ciri-ciri autisme terkait komunikasi dan interaksi sosial, meliputi:

1. Tidak merespon saat dipanggil namanya.

2. Tidak memiliki emosi.

3. Tidak bisa meniru kebiasaan org lain.

4. Tidak bisa bermain berpura-pura

5. Lebih senang menyendiri, seperti ada di dunianya sendiri.

6. Tak bisa memulai atau meneruskan percakapan, bahkan hanya untuk meminta sesuatu.

7. Sering menghindari kontak mata dan kurang menunjukkan ekspresi.

8. Nada bicaranya tidak biasa, misalnya datar.

9. Menghindari dan menolak kontak fisik dengan orang lain.

10. Enggan berbagi, bermain, atau berbicara dengan orang lain.

11. Sering mengulang kata (echolalia), namun tak memahami penggunaannya secara tepat.

12. Cenderung tak memahami pertanyaan atau petunjuk sederhana.

.

Nah, setelah bapak ibu mengetahui ciri-cirinya dan jika ternyata beberapa tanda tersebut ada pada anak , segera berkonsultasilah pada ahlinya untuk memastikan diagnosa dan penanganan yg tepat.

.

Konsultasikan masalah tumbuh kembang anak di Therapy Center Anak Pelangi.

More info 081288750162

.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

💗Like 🔄Share 💬Komen 💾Save

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

.

#therapycenteranakpelangi #artikelanakpelangi #pusattumbuhkembanganak #pusattumbuhkembanganakbsd #kliniktumbuhkembang #tempatterapi #terapiwicarabsd #fisioterapi #okupasiterapi #sensoryintegrationtherapy #centratumbuhkembanganak #autism #telatbicara #delayspeech #gangguanbahasa #gangguanbicara #psikolog #parenting #tipsparenting #autism #specialneeds #anakberkebutuhankhusus #parentingforkids #lamaterapiwicara #prosesterapi #tcanakpelangi #programterapi

Amanda Morin, penulis buku The Everything Parent’s Guide to Special Education menjelaskan bahwa tantrum adalah ledakan emosi ketika anak berusaha mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan.

.

Sedangkan sensory meltdown adalah reaksi atas perasaan tidak nyaman atau kewalahan. Reaksi tersebut bisa jadi berlebihan karena anak menerima terlalu banyak rangsangan sensorik.

.

Anak yang tantrum biasanya akan tenang ketika diperbolehkan atau diberikan kesempatan untuk melakukan keinginannya.

.

Pada anak yang mengalami meltdown, ia justru tidak berhenti berteriak, menendang, atau mengamuk meskipun sudah ketemu dengan keinginannya. Hal ini terjadi karena masalah yang dihadapi anak bukan pada mainannya, namun pada gangguan respon tubuh terhadap rangsangan sensorik yang ia terima. Anak tidak paham apa yang ia inginkan dan tidak ada tujuan tertentu dari sikapnya.

Konsultasikan masalah tumbuh kembang anak di Therapy Center Anak Pelangi.

More info 081288750162

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

💗Like 🔄Share 💬Komen 💾Save

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Bayinya anteng alias jarang nangis

Waspadalah !!

Anaknya anteng jarang gerak

Waspadalah !!

Anaknya pendiam, jarang bicara

Waspadalah !!

Anaknya terlalu aktif, fokus konsentrasi kurang

Waspadalah !!


Bayi yang terlalu anteng, jarang menangis walaupun popoknya basah, waktu minum asi sudah lewat, digigit nyamuk. Aybun perlu waspada karena menangis pada bayi adalah salah satu bentuk komunikasinya untuk mengexpresikan apa yang ia rasakan.

Jika hal ini terjadi, segeralah berkonsultasi !

Biar anak lancar bicara lidahnya dikerok pakai koin emas ya?

Apa benar minum suplemen xxx anak jd lancar bicara?

Anak saya boleh di ruqiyah gak sepertinya ketempelan jin yang bisu?

Apakah Anak saya tidak bisa bicara karena dosa orangtua?

Terapinya boleh 1 bulan aja gak?

Apakah anak saya bisa lancar bicara dengan terapi alternatif?


Jawabannya:

Lakukan yang terbaik untuk anak Anda. Gunakan logika atas apa yang akan anda berikan pada anak tercinta. Carilah referensi yang banyak, dan berkonsultasilah dengan orang yang tepat.

 Pada Hari Raya Idul Fitri ada tradisi memberikan hadiah atau angpao pada anak-anak yang biasa di sebut THR. Biasanya tanpa kita sadari sebagai orang tua pernah melontarkan kalimat ini pada anak :

 

"Lihat tuh ada tante datang, salim dulu sana biar dapat uang"

 

"Tante nih ponakannya mau salim. Mana nih tante THR buat ponakannya."

 

"Tante ponakannya sudah jauh-jauh datang, masa belum dikasih THR"

 

"Tante udah kerja pasti dapet THR, bagi dong keponakannya"

 

"Tante udah ngasih, masa Om nggak ngasih THR ke keponakannya"

 

"Ayo ikut halalbihalal ke rumah teman Mama. Dia orang kaya lho, kalau kamu ke sana nanti pasti dikasih uang"

 

"Nak, Paman mau pulang tuh! Kalau kamu salim nanti dikasih uang, lho" 

 

Kalimat di atas perlu dihindari keluar dari mulut orangtua sebab jika diucapkan akan membuat anak memilik jiwa untuk meminta-minta terhadap orang lain di suatu saat nanti.

Anak akan merekam ucapan dan perilaku tersebut, bisa jadi suatu saat nanti ia akan meminta-minta uang kepada orang lain.

Jadi, yuk stop mengucapkan hal-hal tersebut!  

 

Aktivitas fisik merupakan kegiatan yang penting dilakukan oleh anak-anak. Menurut penelitian, kegiatan fisik dapat meningkatkan kecerdasan pada anak. Selain itu, kegiatan fisik yang dilakukan dapat meningkatkan fungsi kognitifnya antara lain meningkatkan daya ingat anak, fokus dan perhatian, serta kemampuan anak untuk menerima informasi dan memecahkan masalah. Lebih lanjut lagi, anak-anak yang aktif dalam kegiatan fisik menunjukkan sikap yang baik di dalam kelas, lebih konsentrasi dan berpartisipasi, termasuk dalam hal belajar.

Anak usia sekolah disarankan untuk melakukan aktivitas fisik satu hingga dua jam sehari. Jenis kegiatan fisik yang dilakukan tidak harus olahraga, bermain bersama teman sambil berlarian juga dapat dikatakan kegiatan fisik. Hal ini juga akan memberikan manfaat terhadap kesehatannya berupa baik untuk kesehatan jantung, terhindar dari obesitas anak, serta bermanfaat bagi kesehatan anak.

Inilah Aktivitas Fisik yang Bisa Dilakukan Sesuai Usia Anak

Selain untuk mengisi libur panjang di akhir pekan, aktivitas fisik menjadi kegiatan yang memiliki banyak manfaat bagi anak. Aktivitas fisik merupakan kegiatan apapun yang dapat melibatkan pergerakan tubuh pada anak. Mulai dari kegiatan sehari-hari, permainan aktif yang melibatkan fisik, hingga berolahraga. 

Rutin melakukan aktivitas fisik membuat imun tubuh anak semakin membaik. Tidak hanya itu, kegiatan ini dapat membantu mengoptimalkan kesehatan mental anak, menjaga kesehatan otak, menambah kekuatan tubuh, serta membantu tumbuh kembang anak menjadi lebih baik.

Berikut adalah aktivitas fisik yang bisa dilakukan sesuai dengan usia anak.

1.Usia 3–5 Tahun

Disarankan pada usia 3–5 tahun anak-anak harus memiliki aktivitas fisik yang cukup setiap harinya. Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu anak untuk memperkuat tulang dan tubuh serta mempertahankan berat badan yang sehat sejak dini. Tidak hanya aktivitas untuk bergerak, anak-anak usia balita membutuhkan gerakan yang beragam agar kegiatan ini menjadi menyenangkan. 

Di usia ini, ibu bisa mengajak anak untuk meniru berbagai gerakan dari hewan-hewan yang disukai anak, menari dengan lagu kesukaan, atau mengajak anak untuk bermain di halaman rumah sambil mengenal tanaman yang ada.

2.Usia 6–8 Tahun

Pada usia ini, perkembangan anak semakin optimal sehingga ibu sudah bisa mengajak anak untuk bermain lempar tangkap bola di halaman rumah. Tidak hanya itu, ibu juga bisa mulai mengajak anak untuk melakukan olahraga ringan, seperti senam atau yoga yang bisa dilakukan oleh anak-anak. Pastikan anak-anak melakukan gerakan senam atau yoga sesuai dengan usianya agar terhindar dari cedera. 

3.Usia 9–11 Tahun

Di usia ini, ibu bisa mengajak anak untuk melakukan berbagai aktivitas fisik dengan intensitas yang lebih tinggi dibandingkan usia lain. Ibu bisa mulai mengajak anak untuk berolahraga secara rutin, misalnya dengan berjalan mengitari rumah, bermain sepeda statis, atau melakukan olahraga lompat tali.

Itulah beberapa kegiatan aktivitas fisik yang bisa ibu lakukan di rumah bersama anak. Jika anak kurang menyukai aktivitas olahraga, ibu bisa mengajak anak untuk melakukan kegiatan rumahan. Berbagai kegiatan rumahan yang bisa dilakukan anak, seperti menyapu halaman, membereskan mainan, membantu orangtua mencuci kendaraan, hingga berkebun. Ibu bisa rutin melakukan kegiatan ini selama 1–3 jam setiap harinya bersama anak-anak.


kunjungi dan follow

IG @tcanakpelangi

FB @Anakpelangi

 

Membangun hubungan yang kuat adalah aspek penting dari kesejahteraan keluarga. Memperlakukan anak dengan baik dan hormat akan membantunya memiliki hubungan yang sehat hingga mereka dewasa nanti. Ikatan kuat tersebut membuat anak merasa aman dan nyaman. Dan ketika menghadapi masalah, anak akan merasa bebas untuk bercerita dan meminta saran kepada orang tuanya. Bonding dengan anak dapat dimulai sejak ia lahir dan diperkuat seiring berjalannya waktu.

Berikut beberapa tips bonding dengan anak:

1. Luangkan waktu untuk skin to skin touch pada anak.

2. Perhatikan waktu berkualitas Vs kuantitas waktu.

3. Jadikan waktu cerita sebagai aktivitas setiap hari.

4. Jangan lewatkan makan bersama.

5. Manfaatkan akhir pekan dengan baik.

Terapi Sensori Integrasi umumnya dilakukan dengan pola permainan, namun bukan permainan sembarangan, karena di dalam permainan tersebut terdapat trik-trik khusus untuk melatih anak yang berguna untuk meningkatkan daya kepekaan pada anak. Dalam Terapi Sensori Integrasi terdapat banyak metode di setiap permainan yang berguna dalam pembentukan karakter anak. 


Sebelum orang-orang mengenal apa itu Terapi Sensori Integrasi, banyak orang tua yang membawa anaknya ke Klinik Tumbuh Kembang Anak atau Pusat Terapi untuk memberikan terapi mengeluh dan memprotes tentang metode yang diberikan para Terapis kepada anaknya, karena orang tua menganggap bahwa anak-anak mereka hanya diajak bermain saja, padahal kenyataannya memang seperti itulah cara Terapis memberikan Terapi Sensori Integrasi yang mana di dalam permainan yang diberikan terdapat banyak metode untuk meningkatkan konsentrasi dan kepekaan anak.


Contoh permainan yang seringkali diberikan Terapis antara lain: mencocokan gambar puzzle, berjalan di atas garis atau balok titian dan menyamakan warna. Permainan tersebut berguna untuk melatih daya konsentrasi anak, penglihatan anak dan motorik pada anak. Orang Tua tidak perlu merasa cemas dengan proses terapi yang diberikan oleh Terapis, karena memang seperti itu metode yang dapat diterapkan pada anak untuk melatih tingkat kepekaannya. Berbagai jenis gangguan termasuk gangguan Sensori Integrasi apabila diatasi sejak dini maka dampak positifnya pada anak akan semakin cepat dan hasilnya semakin maksimal.

.

Konsultasikan masalah tumbuh kembang anak di Therapy Center Anak Pelangi.

More info 081288750162

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

💗Like 🔄Share 💬Komen 💾Save

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

.#therapycenteranakpelangi #artikelanakpelangi #pusattumbuhkembanganak #pusattumbuhkembanganakbsd #kliniktumbuhkembang #tempatterapi #terapiwicarabsd #fisioterapi #okupasiterapi #sensoryintegrationtherapy #centratumbuhkembanganak #autism #telatbicara #delayspeech #gangguanbahasa #gangguanbicara #psikolog #parenting #tipsparenting #autism #specialneeds #anakberkebutuhankhusus #parentingforkids #lamaterapiwicara #prosesterapi #tcanakpelangi #programterapi